Tidak Ada Perusahaan yang Melaporkan PHK Akibat AI di New York Meskipun Penerapannya Meluas

17

Meskipun kecerdasan buatan (AI) sudah banyak digunakan dalam operasional bisnis, tidak ada perusahaan yang beroperasi di negara bagian New York yang melaporkan AI sebagai penyebab langsung PHK dalam pengajuan wajib ke Departemen Tenaga Kerja. Temuan ini, berdasarkan tinjauan terhadap lebih dari 750 pemberitahuan PHK yang berdampak pada hampir 28.300 pekerja sejak bulan Maret, menggarisbawahi adanya keterputusan antara narasi publik dan dokumentasi pengurangan tenaga kerja.

Mandat New York & Keheningan Perusahaan

Tahun lalu, Gubernur New York Kathy Hochul mengamanatkan agar bisnis dengan 50 karyawan atau lebih mengungkapkan apakah inovasi teknologi atau otomatisasi—termasuk AI—berkontribusi terhadap PHK massal. Tujuannya sederhana: mendapatkan kejelasan tentang dampak nyata AI terhadap ketenagakerjaan. Namun hingga bulan Januari, tidak ada perusahaan yang memilih opsi ini pada pengajuan WARN (Pemberitahuan Penyesuaian dan Pelatihan Ulang Pekerja).

Hal ini bukan berarti perusahaan tidak menggunakan AI untuk menyederhanakan operasional. Perusahaan-perusahaan besar seperti Amazon, Goldman Sachs, dan Morgan Stanley telah secara terbuka mendiskusikan peningkatan produktivitas dari AI. Namun hanya sedikit yang bersedia secara eksplisit menghubungkan PHK dengan otomatisasi, mungkin karena masalah reputasi atau sulitnya mengisolasi dampak AI dari faktor ekonomi yang lebih luas.

Mengapa Ini Penting: Kesenjangan Data

Kurangnya transparansi menciptakan kesenjangan data yang signifikan. Para ekonom kesulitan untuk menentukan dengan tepat pengaruh AI terhadap PHK karena perusahaan-perusahaan melakukan reorganisasi secara perlahan dan sering mengaitkan pemotongan tersebut dengan “restrukturisasi ekonomi” yang tidak jelas. Inisiatif New York bertujuan untuk memperbaiki hal ini, namun hasilnya menunjukkan bahwa perusahaan mungkin menghindari pertanyaan tersebut.

Keraguan ini menimbulkan pertanyaan kritis: Apakah perusahaan sengaja mengaburkan peran AI? Atau apakah faktor tradisional seperti krisis ekonomi masih menjadi penyebab utama PHK? Kebenarannya mungkin terletak di antara keduanya.

Beyond New York: Tren Nasional

Secara nasional, lebih dari 55.000 perusahaan Amerika mengaitkan PHK dengan adopsi AI tahun lalu, menurut Challenger, Gray & Christmas. Namun, angka ini berasal dari pernyataan publik—bukan pengajuan yang diwajibkan secara hukum seperti yang terjadi di New York. Perbedaan ini menunjukkan perusahaan mungkin lebih terbuka dalam pengungkapan sukarela dibandingkan dalam laporan formal.

Akuntabilitas dan Regulasi di Masa Depan

Departemen Tenaga Kerja New York memverifikasi pengajuan WARN, dan perusahaan-perusahaan akan menghadapi denda karena ketidakpatuhan. Pemerintahan Gubernur Hochul menekankan perlunya pelaporan yang jujur ​​untuk mendukung para pekerja yang kehilangan pekerjaan. Namun, beberapa ahli berpendapat perlunya aturan yang lebih ketat.

AFL-CIO Negara Bagian New York mendukung peningkatan akuntabilitas pemberi kerja, sementara anggota parlemen negara bagian sedang mempertimbangkan rancangan undang-undang yang mewajibkan perusahaan untuk melaporkan dampak pekerjaan terkait AI setiap tahunnya. Salah satu usulan bahkan menyarankan untuk menahan hibah negara dan keringanan pajak dari perusahaan yang tidak patuh.

Gambaran Lebih Besar: Evolusi Keterampilan

Ekonom ketenagakerjaan Erica Groshen berpendapat bahwa fokusnya harus beralih dari menyalahkan AI ke menyiapkan pekerja untuk masa depan pekerjaan. “Terus terang, apakah kita benar-benar peduli jika seseorang digantikan oleh AI, atau hanya pasar kompetitif yang normal?” dia bertanya. Kuncinya adalah membekali pekerja dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk bertransisi ke peran baru, bukan hanya melacak kehilangan pekerjaan.

Kesimpulan: Meskipun AI tidak diragukan lagi sedang membentuk kembali pasar tenaga kerja, perusahaan masih enggan untuk mengakui dampak langsungnya terhadap PHK dalam pengajuan yang mengikat secara hukum. Eksperimen yang dilakukan di New York menyoroti tantangan dalam mengukur pengaruh AI dan menggarisbawahi perlunya kebijakan proaktif yang berfokus pada adaptasi tenaga kerja dibandingkan sekadar melacak perpindahan pekerjaan.