Munculnya “momfluencer” telah mengubah ranah domestik menjadi pasar digital dengan risiko tinggi. Dari gambaran pastoral yang diidealkan tentang “ibu pedagang” seperti Hannah Neeleman (Ballerina Farm) hingga konten gaya hidup Nara Smith yang sangat dikurasi, media sosial telah menciptakan standar baru untuk peran sebagai ibu: yang murni, performatif, dan sangat menguntungkan.
Namun, di balik keindahan makanan organik dan taman yang indah, terdapat kenyataan yang kompleks dan sering kali meresahkan. Dalam buku barunya, Suka, Ikuti, Berlangganan: Influencer dan Biaya Masa Kecil Online, jurnalis investigatif Fortesa Latifi mengeksplorasi area abu-abu etika dalam mengasuh anak di mata publik, di mana batas antara kehidupan keluarga dan konten komersial menjadi sangat kabur.
Monetisasi Pencapaian
Salah satu pengungkapan paling mengejutkan dalam penelitian Latifi adalah sejauh mana peristiwa-peristiwa intim dan pribadi dimanfaatkan untuk “sponcon” (konten bersponsor). Upaya untuk mencapai keterlibatan sering kali mendorong orang tua untuk memperlakukan kehidupan anak-anak mereka sebagai serangkaian peluang konten.
Latifi menyoroti beberapa tren yang meresahkan:
– Memanfaatkan Pubertas: Orang tua telah menggunakan menstruasi pertama anak perempuan mereka sebagai latar untuk postingan bersponsor untuk produk menstruasi.
– Mendapatkan Untung dari Rasa Sakit: Influencer mengakui bahwa konten yang menampilkan anak-anak yang sakit, sedih, atau terluka secara konsisten menghasilkan interaksi tertinggi.
– Hilangnya Privasi: Momen intim—seperti seorang anak yang mencukur bulu kakinya untuk pertama kali atau bahkan berkabung di peti mati kakek-neneknya—disiarkan ke jutaan pemirsa.
Tren ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang informed consent. Meskipun anak-anak ini tumbuh besar di depan kamera, mereka sering kali masih terlalu muda untuk memahami dampak jangka panjang jika momen-momen paling rentan mereka diarsipkan secara permanen di internet.
Paradoks Keamanan
Visibilitas digital anak-anak membawa risiko yang signifikan, terutama ancaman predator online. Latifi mencatat pola yang meresahkan: bahkan ketika orang tua menerima pesan yang mengkhawatirkan dari predator, banyak yang tidak mengubah kebiasaan mereka memposting.
Meskipun mengetahui bahwa jenis konten tertentu—seperti anak-anak yang mengenakan pakaian renang atau kostum tari—menarik perhatian yang “aneh” atau berbahaya, dorongan untuk menonton sering kali lebih besar daripada dorongan untuk keamanan digital. Bagi banyak influencer, kamera telah menjadi anggota keluarga yang tidak dapat dipisahkan, sehingga menormalkan tingkat paparan yang sulit diselaraskan dengan pola asuh tradisional.
Ideologi dan Tren “Tradwife”.
Lanskap “momfluencer” bukan hanya tentang gaya hidup; itu sangat terkait dengan arus politik dan agama. Sebagian besar konten keluarga yang paling sukses adalah “kode konservatif”, yang menekankan keluarga besar, peran sebagai ibu rumah tangga, dan peran gender tradisional.
Latifi menunjukkan beberapa persimpangan utama:
– Pengaruh Keagamaan: Gereja Mormon telah berperan dalam mendanai influencer, menyadari bahwa seorang influencer dengan banyak pengikut bisa lebih efektif dalam perekrutan dibandingkan misionaris tradisional.
– Estetika Politik: Meskipun banyak influencer tidak secara eksplisit menyatakan politik mereka, konten mereka—yang berfokus pada kerumahtanggaan dan tradisionalisme—sangat sejalan dengan cita-cita sayap kanan.
– Pergeseran Norma: Munculnya media sosial juga memperumit struktur tradisional ini. Munculnya perempuan yang merupakan pencari nafkah utama, bahkan dalam komunitas keagamaan, menantang citra “sempurna” dari ibu rumah tangga yang patuh dan patuh.
Kompleksitas “Anak Influencer”
Penting untuk menghindari pandangan monolitik terhadap anak-anak yang menjadi sorotan. Dampak terhadap anak-anak ini tidak seragam.
Di satu sisi, ada dampak buruk yang terdokumentasi: beberapa mantan influencer anak-anak tidak melakukan kontak dengan orang tua mereka, merasa bahwa masa kecil mereka sebenarnya merupakan pekerjaan yang tidak pernah mereka ikuti. Di sisi lain, beberapa anak telah berhasil bertransisi ke karier digital mereka, membangun banyak pengikut, dan menavigasi industri ini saat mereka beranjak dewasa.
Selain itu, reaksi negatif terhadap para momfluencer sering kali dipicu oleh kontradiksi sosial. Meskipun banyak yang mengkritik perempuan-perempuan ini karena menghasilkan uang dari peran sebagai ibu, ada ketegangan mendasar mengenai proses persalinan itu sendiri. Masyarakat sering kali menganggap peran sebagai ibu tidak dibayar dan tidak terlihat; ketika perempuan menemukan cara untuk mengubah pekerjaannya menjadi karier yang menguntungkan, hal ini sering kali memicu reaksi defensif, yang terkadang misoginis.
Kesimpulan: Era momfluencer telah mengubah masa kanak-kanak menjadi sebuah komoditas, menciptakan ketegangan antara manfaat ekonomi dari ketenaran digital dan hak dasar atas pendidikan yang privat dan terlindungi. Ketika batasan “konten keluarga” terus meluas, pembicaraan seputar etika digital dan tanggung jawab orang tua menjadi lebih mendesak dari sebelumnya.





























